Nurani Memanggil, Donasi Terkumpul dari Hati Kecil

(Sebuah catatan kecil) Jum’at sore 28 September 2018 di Kota Parepare, mentari begitu bersahabat seakan sore akan beranjak ke peraduan berganti dengan hingar bingar malam. Namun, tepat pukul 17.26 WITA terjadi sesuatu yang mengusik jiwa, beberapa wilayah Parepare merasakan getaran yang entah darimana asalnya. Beberapa saat kemudian, tersiarlah kabar bahwa Kabupaten Donggala mengalami gempa tektonik skala 7,4 SR, Kota Palu dihantam tsunami hebat serta salah satu Perumnas di wilayah Kota Palu mengalami likuifaksi (bangunan tenggelam akibat semburan lumpur dari bawah tanah) yang menyebabkan semua bangunan luluh lantah rata dengan tanah.

Sesaat setelah gempa dan tsunami yang menerjang kota palu dan sekitarnya, suasana semakin mencekam dikarenakan semua akses informasi lumpuh total. Komunikasi dari segala arah tak mampu menembus lokasi kejadian yang membuat setiap keluarga dari luar kota palu menjadi semakin was was tak menentu. Anak terpisah dari orang tua, saudara terpencar entah kemana demi menyelamatkan diri dari gelombang gempa serta amukan tsunami.

Peringatan kah ataukah azab yang tentunya menggugah nurani siapapun untuk turut merasakan duka mendalam bagi yang mengalami kejadian tersebut. Banyak berita berseliweran di media sosial tentang perkembangan terkini kota palu dan sekitarnya yang membuat hati semakin miris terutama setelah melihat beberapa tayangan dari korban selamat.

Dukamu adalah duka kita semua, tangis air mata tak mampu membendung gelimpangan korban yang semakin bertambah. Hanya uluran tangan yang mampu menggandeng mereka yang selamat untuk tetap menatap hidup ke depan. Bantuan pun mulai mengalir, tak ketinggalan pula keluarga besar Pengadilan Agama Parepare tersentuh untuk berbuat demi keberlangsungan hidup sesama hamba.

Seakan dikomandoi oleh panggilan jiwa, para hakim, pegawai, karyawan dan pramubhakti serta mahasiswa praktek pengalaman lapangan IAIN Parepare bahu membahu mengumpulkan donasi demi meringankan beban sesama penghuni bumi. Panitia pengumpulan pun terbentuk secara sukarela agar bantuan yang ada dapat terkumpul dan tersalurkan secepat asa. Waktu berputar begitu cepat, dan donasi berupa pakaian layak, bahan makanan, air mineral terkumpul hanya dalam waktu dua hari. Ahmad Fadly selaku koordinator pengumpulan bantuan berkilah “setiap tetes bantuan yang walau hanya bernilai minim, namun jika tepat sasaran akan memiliki makna besar”. Ia juga menambahkan bahwa rasa kemanusiaan kita seharusnya melebihi ego kemanusiaan yang terkadang acuh atas masalah orang lain.

Penyortiran dan pengemasan barang yang dibantu oleh mahasiswa PPL IAIN Parepare dapat terselesaikan hanya dalam waktu sehari. Panitia pun bergerak cepat menghubungi pihak yang bersedia mengantarkan langsung donasi yang telah terkumpul. Polwiltabes Parepare menjadi tujuan pengumpulan selanjutnya, mengingat lembaga tersebut telah memiliki posko tersendiri di beberapa wilayah terdampak gempa di Palu dan sekitarnya serta akan mengirimkan bantuan tersebut pada hari Jum’at tanggal 6 Oktober 2018.

Hari Kamis, 5 Oktober 2018, bertempat di halaman kantor Pengadilan Agama Parepare, Ketua dan Wakil Ketua Pengadilan Agama Parepare, menyerahkan secara simbolis bantuan tersebut kepada koordinator pengumpulan bantuan dari Pengadilan Agama Parepare. Drs. H. Gunawan, M.H. selaku wakil ketua berpesan bahwa “setiap musibah selaiknya menyadarkan umat untuk semakin dekat dengan pencipta Nya, dan di setiap musibah seharusnya menjadi momen introspeksi dan penyadaran bahwa sesama hamba diciptakan pada garis saling membutuhkan”. Ia menutup kegiatan penyerahan tersebut seraya memohon ampunan kepada Allah serta berharap agar bantuan tersebut sesegera mungkin dapat digunakan.

Perjalanan selanjutnya adalah penyerahan bantuan di posko sementara yang berada di polwiltabes Parepare. Semangat para petugas penerimaan yang tak kenal lelah menerima bantuan untuk dikumpulkan menjadi satu menjadi energi positif bagi panitia. Setelah bantuan diserahterimakan, perwakilan panitia pun pamit undur setelah dilakukan penerimaan secara simbolis.

Di atas langit masih ada langit, secercah harapan bagi korban terdampak gempa merupakan kebahagiaan bagi donatur yang selalu berangkat dari hati kecil. (@fadelzahrahmaros)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *